Skip to main content
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Insya Allah setiap jawaban disini dibangun diatas pengetahuan, pengalaman dan ilmu yang ana miliki.

Namun demikian, perlu ana garis bawahi dan perlu dipahami bahwasannya apapun yang ana tulis disini tidak mengubah kenyataan saat ini :

  • Ana masih berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan hidup ana ( artinya ana sungguh sedang miskin, ana tidak berpura - pura miskin ).
  • Hafalan ana masih sangat sedikit, jadi boleh dikatakan ilmu aja juga sedikit.
  •  Ana juga masih banyak kekurangannya, baik dalam ilmu dan peng-amalannya. ( Misalkan : Ana belum sepenuhnya bisa khusyuk dalam sholat - terkadang pikiran tentang dunia masih terngiang-ngiang saat sholat, Ana mengetahui dan mengerti beberapa asma' wa sifat Allah - tetapi ana masih berusaha keras untuk benar - benar beriman dan bertawakal dengan semua asma' wa sifat Allah , dsb ).

Rezeki


  • Alhamdulillah, menjadi petani itu sederhana. Ketika datang panen, ana akan ambil dan dipilah mana yang layak dijual dan yang tidak layak dijual. Kemudian mengantarnya ke pedangang yang ada di desa ini.
  • Untuk hasil yang tidak layak dijual ( ada cacat ) bisa diberikan ke tetangga atau diberikan ke tempat tertentu.
  • Adapun yang tidak layak jual karena busuk atau cacat parah, kembali jadi pupuk.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah melewati setumpuk makanan. Lalu Beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan itu, tiba-tiba jari-jari Beliau menyentuh sesuatu yang basah.

    Maka Beliau bertanya, "Apa ini, wahai pemilik makanan?"

    Orang itu menjawab, "Terkena hujan, wahai Rasulullah."

    Beliau bersabda, "Mengapa tidak engkau letakkan di bagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya? Barangsiapa menipu, maka ia bukan termasuk golonganku."

    ( Shahih Muslim : 102 )

  • Pada dasarnya menjual hasil panen yang memiliki cacat tidak ada larangan. Sayangnya praktek di lapangan sebagian pedagang melakukan kecurangan sebagaimana hadist diatas. Maka, sebagai bentuk kehati-hatian ana hanya menyerahkan hasil yang layak saja. 
  • Adapun jika pedagang tersebut menyelipkan barang tidak layak ( mungkin dari orang lain ), maka ana berlepas diri dan ana bertawakal sebatas kesanggupan ana ( memilah dan hanya menyerahkan yang layak jual saja ).
  • Jikalaupun ada yang hendak bertanya, "Lalu mengapa tidak dijual sendiri langsung ke pasar ?" , Afwan, perincian hal semisal ini tidaklah sederhana. Ana hanya bisa memberi jawaban, " hal tersebut diluar kemampuan ana."
    "Akan datang suatu zaman pada manusia, mereka tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal ataukan dari yang haram."
    ( Shahih Bukhari : 2083 )

Secara finansial ___________

  • Qadarullah, tahun 2025 ini ana terus bleeding ( menggunakan tabungan yang tersisa ) untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membiayai pertanian yang sedang ana kerjakan saat ini.
  • Inilah alasan utama ana tidak bisa menyebutkan pendapatan ana dan ana lebih suka mengatakan ana saat ini miskin. ( selain itu tabungan ana juga tinggal sedikit, maka ana juga mengatakan ana beneran miskin, tidak berpura - pura miskin )

Hal lainnya ___________

  • Alhamdulillah ana sudah biasa belanja ke pasar tradisional sejak 2018. Dan di keluarga kami, hampir semua orang bisa memasak karena ibu sudah mengajarkan beberapa keahlian untuk hidup mandiri sejak dini. ( Ya meskipun belum seenak masakan ibu )
  • Kemudian sebagaimana ana sebutkan di page "ordinary Q&A" bahwa beberapa bahan makanan bisa ana dapatkan dari ladang ataupun sekitar rumah.
  • Dan Insya Allah, setelah menikah tetap ana yang akan belanja keluar rumah. Dan adapun terkait memasak, ana berharap bisa memasak bareng istri - saling bantu.

"Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh."

( QS. Az-Zariyat : 58 )


Jawaban dari sudut pandang realistis - materialistis :


  • Saat ini standart pengeluaran menu harian ana adalah 150gr kedelai + 370gr beras + 300gr s.d 1kg sayuran. ( Ini adalah batas ketercukupan gizi yang ana perhitungkan )
  • Ana seorang satisficer dan Alhamdulillah, lidah ana cukup terlatih sehingga memakan menu yang sama bukan lah masalah. Tetapi ana tidak memperlakukan orang lain secara bodoh. Saat pulang dan memasak bersama ibu, ana akan mengikuti selera ibu dan tetap memperhatikan ketersedian ayam, telur, maupun ikan. Dan ketika saudara beserta keluarga akan menjenguk ibu, maka anapun berusaha menyediakan makanan yang layak dan disukai anak-anak.
  • Maka, Insya Allah, untuk 2x standart menu harian ana + ¹/2 kg ayam / telur / ikan per minggu ana masih mampu hingga akhir tahun ini ( secara perhitungan diatas kertas ). Adapun tahun depan, Insya Allah bisa mulai panen cabai, maka Allahul  Musta'an ana tidak berani menghitung hal yang belum ditangan ana dalam keperluan ta'aruf ini, ana khawatir terjatuh dalam perkara mengelabui.
  • Untuk tempat tinggal sudah ana sebutkan sebelumnya. Dan untuk pakaian untuk awal, masih bisa menggunakan yang sudah dimiliki saat ini.
  • Dan dari semua perhitungan realistis - materialistis ini, akhirnya ana mengatakan, "ana hanya memiliki cincin pemberian ibu sebagai mahar dan ana hanya mampu menikah di KUA." Karena jika ana mengeluarkan bleeding untuk resepsi yang tidak sederhana dan mahar yang dipatok tinggi, maka resiko pembiayaan pertanian ana berantakan dan perencanaan biaya hidup setelah menikah nantinya akan ikut kacau.

Jawaban dari sudut pandang realistis - agamis


Note : ana jawab dari sudut pandang laki - laki yang sedang mencari istri. Adapun dari sudut pandang perempuan dan umum, antum boleh bertanya atau mencari ilmunya dari orang lain.

    Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal." (QS. Luqman : 34)
  • Banyak kenyataan bahwa setelah menikah seseorang menjadi lapang rezeki, mudah ia mendapat pekerjaan, naik pangkat, naik tunjangan, ROA - ROE - ROI yang naik drastis. Tetapi jangan mengingkari bahwa banyak juga kenyataan, karyawan yang dipecat, gaji yang tidak turun, pembisnis yang bangkrut, investor yang lenyap modalnya, pabrik gulung. rumah kebakaran, bencana alam, dsb bahkan mati tiba - tiba.
  • Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi besok, apa yang akan dikerjakan besok, apa yang akan diperoleh besok. Manusia hanya berkendak, berhitung, berharap, merencanakan, dan merancang apa yang bisa dilakukannya besok.
  • Setiap orang pasti akan mendapat ujian dan cobaan. Kapan, dimana, dan bagaimana bentuk cobaannya, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

( QS. Al Baqarah : 155 )

  • Mungkin ada seseorang yang dikenal pandai dalam mengenali kemampuan orang, memperkirakan kesuksesan orang, memperhitungkan dan menulis teori bahwa orang semisal ini akan berhasil dan sukses sedangkan orang semisal demikian akan gagal dan tersungkur.
  • Tetaplah ingat,

"Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" ( QS. An Nisa' : 87 )

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."

( QS. An Nur : 32 )

  • Dari ilmu yang demikian, dengan terus berhuznudzon kepada Allah, ana yakin dan mantap untuk mencari istri meskipun ana dalam kondisi miskin dan Alhamdulillah ana memiliki pekerjaan dan ana secara mental & pengalaman sudah siap untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan dan tindakan yang ana ambil. Dalam hal ini adalah kesiapan untuk menikah dan menanggung nafkah keluarga.

"Katakanlah, 'Sesungguhnya, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'"

( QS. Saba : 36 )

  • Ana memang kurang percaya diri dalam hal ekonomi, karena pada zaman ini sebagian besar orang memberikan cukup perhatian terhadap kemampuan ekonomi calon suaminya.
  • Bagi ana kondisi ini bukan sebuah aib, hal yang biasa dan boleh diketahui siapa saja maka ana tulis disini.
  • Dan hal yang penting untuk ana adalah tetap bersikap adil dan jujur. Adapun ternyata membuat orang lain merasa berat atau bahkan merendahkan status ana, berarti bukan jodoh ana.
  • Kemudian jika ada seseorang yang bisa memahami dan menerima kondisi ana saat ini, semoga kita berjodoh dan Insya Allah, Allah yang akan memampukan kita dan mencukupkan setiap kebutuhan kita kelak dengan karunia-Nya.
  • Dan adapun orang - orang yang mengerti dunia pertanian khususnya ataupun dunia bisnis & investasi. Ana hanya ingin menyampaikan bahwa ana adalah seorang pemula di bidang ini dan ana cukup sadar diri untuk tidak menyebutkan potensial valuenya. Ana tidak ingin mengelabui orang yang tidak mengerti dengan janji manis dan perhitungan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kelak.

Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” 

( Jami' at Tirmidhi : 2516 )


Sifat & Karakter


Dalam hal ini, ana tidak ingin memberi contoh pertanyaan. Karena ana mengunakan cara yang sedikit unik dalam menilai karakter orang lain. 

Jadi disini ana hanya akan memberikan informasi kemudian silahkan menilai ana dengan cara antum.

  • Ana tidak memiliki cukup pengalaman dalam hal ini, karena memang ana tidak pernah pacaran atau memiliki hubungan dekat dengan perempuan bukan mahram.
  • Adapun ketika belanja, menurut ana ya seperti pada umumnya orang → tersenyum, menawar, kadang mendengarkan cerita kalau pedagangnya bercerita.
  • Kemudian di jaman sekolah, afwan ana orang kelahiran tahun 91. Dahulu itu tidak seperti jaman sekarang. Anak laki - laki ya hampir pasti cuman berkumpulnya sama anak laki - laki juga. Adapun misalnya ada teman seangkatan yang pacaran pasti sembunyi - sembunyi karena memang masih hal yang tabu di zaman ana.
  • Ana adalah anak bungsu. Sebagaimana anak bungsu pada umumnya yaitu mempunyai label dimanja oleh orang tuanya. ( note : ana tidak dimanja oleh saudara ana, hahaha ). Dan cara memanjakan setiap orang tua pasti memiliki keunikan masing - masing. Jadi ya ... kira - kira begitu.
  • Sebagai anak bungsu tidak berarti paling ringan bebannya, hahaha. Ingatlah, pada umumnya terdapat aturan tak tertulis dalam keluarga yaitu yang paling tua adalah yang paling benar dan ditaati. Jadi secara konyolnya, anak bungsu itu yang paling tertindas tetapi paling dimanja pula, yang paling disalahkan tetapi paling dimaafkan pula, paling sering dimarahi tetapi juga paling disayang, ... oleh seluruh keluarga.
  • Jadi, secara umum, anak bungsu dan anak sulung berpotensi memiliki karakter khas yang kuat.
  • Dalam kasus ana, Alhamdulillah ana paling dalam akademik dan pola pikir. Jadi ana memiliki karakter khas Dominan, ana memiliki suara lebih dalam memberikan pertimbangan keputusan yang krusial dalam keluarga.
  • Saat SMA ana pernah menjadi ketua salah satu organisasi di sekolah. Afwan, ana juga tidak tahu apa pentingnya ini. Mungkin, yah kira - kira ana punya pengalaman menjadi pemimpin di saat masa labil - labilnya remaja. Hahaha.
  • Saat kuliah ana mendamaikan atau berperan dalam menengahi perselisihan antar 2 kelompok dalam sebuah organisasi di kampus. Allahul Musta'an. Ana mengakui bahwa ana tidak berhasil mendamaikan 2 pemimpin kelompok tersebut karena memang ana tidak memiliki cukup otoritas di organisasi tersebut tetapi Alhamdulillah agenda kegiatan yang terancam tidak terlaksana akibat perselisihan tersebut akhirnya bisa berjalan lancar dengan pengantian ketua pelaksananya.
  • Terakhir, Alhamdulillah, ana pernah diberi kepercayaan untuk memperbarui sistem kepegawaian dan operasional di sebuah pabrik kecil ( sedikit karyawannya ), Dan ana juga diberi kesempatan untuk menyelesaikan keregangan antara pabrik tersebut dengan dua partner bisnisnya. Qodarullah, ana resign karena adanya perbedaan prinsip ( halal - haram )  dalam menjalankan sebuah bisnis. Allahul Musta'an.

Ana tidak bermaksud ujub ataupun sombong. Allahul Musta'an.

  • Alhamdulillah, ana memiliki IQ diatas sekian. Meskipun demikian ana juga mengakui bahwa tes IQ untuk anak zaman sekarang sudah tidak relevan atau memiliki nilai yang tidak valid karena adanya diruspsi digital yang berpengaruh pada pembentukan inteligen seseorang kearah yang lebih unik.
  • Ana seorang introvert dengan kararter pemikir yang tenang dan dalam.
  • Alhamdulillah, ana memiliki sedikit pengetahuan tentang psikologi dan ana juga memiliki sedikit ilmu agama.

Ketiga hal tersebut bisa merujuk pada pedang bermata dua.

  • Insya Allah, ana adalah orang yang bermoral dan memiliki etika yang mempertimbangkan salah dan benar berdasarkan ilmu agama meskipun ana masih perlu banyak belajar tentang agama. Dan ana juga memiliki prinsip yang kuat untuk menjaga kejujuran dan tidak berbuat aniaya kepada siapapun, Allahul Musta'an.

"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan (memperhitungkan) dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka, Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

( QS. Al-Baqarah :  284 )



Informasi Tambahan :

Jika pada pertanyaan bagian atas ana tulis berdasarkan Ilmu, pengalaman pribadi, dan pelajaran yang ana ambil dari kehidupan orang lain.

Namun pada tulisan di bagian bawah ini, hanya berdasarkan ilmu dan pengetahuan dari berbagai sumber. Ana tidak memiliki cukup pengalaman pribadi dalam beberapa hal di bawah ini. Jadi, bagian bawah ini sebatas menunjukkan wawasan, harapan, dan rancangan yang ingin ana wujudkan.

Note :

  • Ana akan menulis secara bebas di bagian bawah hingga page bonus. Jadi, tidak menutup kemungkinan ana menggunakan rangkaian kalimat yang indah atau bahkan kalimat yang tajam.



Jodoh & Pasangan


Red Car Theory ↦ Fokus dan perhatian dapat mempengaruhi sebuah persepsi seseorang. Misalkan :

    • Seseorang yang sangat ingin atau akan membeli mobil berwarna merah ataupun seorang pekerja / siswa yang diberi tugas untuk memfoto mobil merah yang ia lihat hari ini. Maka dia akan merasa lebih sering melihat mobil merah bahkan bertambah rasa sukanya terhadap mobil merah.
    • ⊗ Tetapi dalam kondisi normal, ia tidak sedang ingin membeli mobil ataupun ada tugas memfoto, jika ia ditanya berapa mobil merah yang ia lihat hari ini ? Besar kemungkinan ia akan menjawab tidak tahu ( dia tidak begitu memperdulikannya ).

  • Adalah wajar seseorang yang berniat menikah memiliki fantasi
    • → seandainya menikahi orang yang fisiknya demikian akan enak, menyenangkan, baik fisik keturunannya nanti, dsb.
    • → seandainya menikahi orang yang ekonomi dekimian akan tenang, bahagia, tercukupi, dsb.
    • → seandainya menikahi orang yang berstatus demikian ( pendidikan, jabatan, dll ) akan lebih baik, berguna, bermartabat, dsb.
    • → seandainya menikahi orang yang memiliki sifat dan agama demikian akan penuh kasih sayang, baik kesudahannya, dsb.
  • Kendalikan fantasi ini karena itu bisa mengacaukan niat menikah dan mengubah pandangan kebutuhan dalam sebuah pernikahan.
    • ↬ Fantasi fisik membuat seseoarang menjadi terasa lebih sering melihat orang yang lewat atau pasangan temannya yang memiliki paras yang menawan, tubuh tinggi dengan body yang baik, atau bisa juga memperhatikan anak - anak yang lucu dan berparas menawan. Dia menjadi berambisi dan menginginkan pasangan yang demikian, sehingga filter pertama dia dan fokus utama dia adakah "kriteria fisik".
    • Dan seterusnya ↺ ekonomi, status, dan agama dengan pola yang semisal.
  • Perlu bersikap dewasa dan pertimbangan yang benar. Perhatikan kembali niat dan tujuan menikah.
    • Sebagian orang menginginkan kebahagiaan, ketenangan, dan ketercukupan apa-apa yang terbesit dalam hati tentang betapa bahagianya kehidupan dunia ini setelah menikah.
    • Sebagian orang menginginkan kebahagian orang lain – orang tuanya akan bahagia, hidup anaknya akan terjamin kelak, anaknya akan tumbuh menjadi pribadi yang baik fisik dan akhlaknya, dsb. Dan inipun bisanya terkait standart duniawi.
    • Sebagian orang mengira mampu mencapai kebahagiaan dunia dan akherat secara bersamaan hingga ia menyusun kriteria yang mengecoh dan membebani dirinya sendiri. ( * memasang kriteria terlalu tinggi menimbulkan efek psikologi - berharap terhadap manusia padahal manusia tidak mampu memenuhi segala harapannya )
    • Sebagian orang menginginkan mengamalkan ilmunya ( ibadah pernikahan ) dan berharap kebahagiaan dunia dan akherat.
    • Dan sebagian orang ada yang memiliki keikhlasan niat karena Allah dengan ilmu.
    • Dan masih banyak lagi, tidak ada yang tahu niat asli yang terbesit dalam hati kecuali Allah yang Maha Mengetahui.
    "Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu hanya akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang ia niatkan.

    Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu (dibalas) untuk Allah dan Rasul-Nya.

    Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya itu (dibalas) sesuai dengan apa yang ia tuju."

    ( Shahih Muslim : 1907 )

    "Wanita itu dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memilki ( mengerti ) agama." ( HR. Bukhari dan Muslim )



Disclaimer : 

  • Ada celah dalam Red Car Theory, ana hanya mengunakan konsep dasarnya yang telah umum digunakan.
  • Adalah wajar dan tidak tercela dalam menentukan apapun kriteria dan tujuan dalam menikah selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Tetapi setiap pilihan tindakan memiliki konsekuensi masing - masing dan Insya Allah, akan mengarah dan menghasilkan kepada hal yang sebanding.
  • Menikah adalah ibadah yang continue dan panjang. Mungkin niat awal memang bercampur antara hasrat dunia, akherat, ibadah, dan keikhlasan. Terus memperbaiki niat adalah hal yang baik. Allahu A'lam, Allahul Musta'an.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"

( QS. Ibrahim : 7 )

  • Setiap manusia memiliki kekurangan, kelemahan, dan juga melakukan kesalahan.
  • Ketika seseorang menerima dan bersyukur atas setiap ketetapan yang Allah kehendaki untuknya ( dalam hal ini adalah jodoh ). Insya Allah, akan bertambah kenikmatan dalam pernikahan tersebut :
      • ↠ Fisik yang menjadi ngangenin,
      • ↠ Ekonomi yang terasa cukup, qonaah dan kaya hati,
      • ↠ Sifat dan akhlak yang membuat rasa nyaman dan tenang,
      • ↠ Ibadah yang terasa lebih ringan, khusyuk dan tercapai nikmatnya sebuah keimanan. 
  • Dan ketika seseorang mengingkari nikmat jodoh ini. Ana khawatir, ditampakkan sebagian azab-Nya ketika ia masih hidup dan menjalani pernikahan tersebut :
      • ↠ Fisik yang rupawan tetapi terasa memuakkan ...
      • ↠ Ekonomi yang terasa sempit dan penuh kekurangan. Meskipun emas segunung telah ditangan, tetapi hati dan keringat terus bercucuran demi gunung - gunung emas lainnya.
      • ↠ Sifat dan akhlak yang membuat berat untuk tinggal dirumah, beban dan stress akan masalah keluarga yang terus bertambah tanpa titik temu yang jelas.
      • ↠ Ibadah yang terasa semakin berat dan menyedihkan. Bahkan semakin hari semakin bertambah jauh dari ketaatan kepada Allah. 

Disclaimer : 

  • Jangan bawa tulisan ini terlalu emosional. Manusia memang lemah, kadang bisa bersyukur, kadang kurang bersyukur, yang penting jangan sampai mengingkari. Dan segera tobat jika merasa ada yang salah atau kurang.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

( QS. An Nisa' : 28 )

"Tali keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." ( HR. Thabrani )

  • Tatkala hati telah berniat menikah karena keimanan dan ketaatan kepada Allah. Maka, jadikanlah cinta kepada pasangan adalah bentuk cinta karena Allah.
  • Insya Allah, pernikahannya akan langgeng, diberkahi, dan dimudahkan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan dalam sebuah ibadah pernikahan tersebut.

Disclaimer : 

  • Afwan sebenarnya cinta karena Allah dan untuk Allah ini cukup kompleks. Tapi semoga dengan kalimat singkat diatas bisa sedikit mewakili maksud yang ingin ana sampaikan.
  • Hadist tersebut dikatakan - dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah hadist hadist shahih -, namun Qadarullah, ana hanya memiliki kitab tersebut hanya sampai hadist ke 750 jadi afwan ana belum bisa mengeceknya di kitab tersebut.

Jawaban untuk istri yang ingin bekerja


    Dan kewajiban atas orang yang dilahirkan untuknya ( ayah atau suami ) memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
    ( QS. Al Baqarah  233 )
  • Izinkanlah suami untuk mencari nafkah untukmu ( istri ) dan dukunglah ia dalam menjalan kewajibannya sebagai suami yaitu memberi nafkah makanan dan pakaian kepada anak dan istrinya.

    Dan hak-hak mereka (istri) atas kalian (suami) adalah kalian memberi rezeki ( nafkah ) dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik (ma'ruf). ( HR. Muslim : 1218 )
  • Nafkah adalah hak istri atas suaminya. Janganlah istri membukakan salah satu pintu kesempatan suaminya untuk melakukan sebuah dosa.
    "Cukuplah seseorang itu berdosa jika ia menyia-nyiakan (menelantarkan) orang yang ia tanggung. ( HR. Abu Dawud : 1692 )

    "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
    ( QS. An Nisa : 34 )
  • Bantulah suamimu memenuhi kodratnya sebagai laki - laki sejati. Agar ia bisa memimpinmu dan keluarga dengan gagah berani dan menafkahi kalian dengan cara yang baik.

    "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."
    ( QS. Hud : 6 )
  • Boleh jadi seorang istri terlalu mengkhawatirkan masa depan dan boleh jadi istri meragukan kemampuan / kesanggupan suami dalam mencari rezeki. Tetapi, ingatlah, bersabarlah wahai istri, dan yakinlah akan ketetapan Allah.
    "Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan berlaku baiklah dalam mencari (rezeki), karena sesungguhnya suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya, meskipun rezeki itu lambat datangnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berlaku baiklah dalam mencari (rezeki). Ambillah apa yang halal dan tinggalkanlah apa yang haram."
    ( Sunan Ibn Majah : 2144 )

  • Kemudian, sayangilah dirimu wahai istri dan sayangilah suamimu. Jangan sampai lalai akan ancaman yang sangat berat.
    "Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga .......': ad-Dayyuts, ar-Rajulah dari kaum perempuan, dan pencandu khamr'"


Mereka (para sahabat) berkata, "Ya Rasulullah, adapun pencandu khamr telah kami ketahui, lalu apa ad-Dayyuts itu ?" Beliau menjawab, " Orang yang tidak peduli siapa yang masuk / menemui keluarganya ( istri, anak, dan orang dibawah perwaliannya )."


Kami ( para sahabat ) berkata, " Kemudian apa yang dimaksud ar-Rajulah dari kaum perempuan ?" Beliau menjawab, " Wanita yang tasyabbuh ( menyerupai dalam perilaku dan penampilan ) dengan kaum laki - laki."


    ( dishahihkan Syaikh Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2367  )
  • Menurut ana pribadi jawaban diatas sudah mencukupi terlebih ditambahkan kalimat - kalimat kasih sayang antara suami - istri. Semoga bermanfaat.
  • Karena ada kepentingan personal ana, jadi ana tambahkan sedikit jawaban khusus.

  • Alhamdulillah, ana bukan seorang karyawan yang menjual 8 jam waktunya + 1 jam persiapan kerja + 1 jam pulang kerja ( belum ditambah lembur, pergi dinas, dan jam stres kerja yang dibawa pulang ).
  • Meskipun saat ini penghasilan ana terbilang kecil dibandingkan karyawan. Alhamdulillah ana memiliki waktu lebih untuk menemani istri, semoga kebosanan istri dirumah bisa diredakan.
  • Bagi sebagian orang, memakan bakmi ayam bersama pasangan dan keluarga itu terasa lebih nikmat daripada makan pizza sendirian sambil memandang jendela.

Dan seterusnya, ana tidak boleh melanjutkan jawaban yang emosional.

  • Ana mendukung seorang istri jika ia ingin berbuat baik kepada orang tuanya dan saudaranya. Ataupun keinginan istri untuk bermanfaat bagi orang lain. Tetapi ia juga perlu mengilmui hak suami dan tidak menyelisihi suaminya. Berbuat baiklah sesuai kemampuan istri dan kemampuan suami.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. ... " ( QS. Al Baqarah : 286 )


Beberapa Problem - Solving Rumah Tangga


    Mu'awiyah bin Haidah berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa hak istri salah seorang dari kami atas suaminya?'"

    Beliau bersabda,"Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, dan janganlah engkau memukul wajah, janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan janganlah engkau menjauhinya (mengasingkannya) kecuali di dalam rumah."

    ( Sunan Abi Dawud : 2142 )


  • Memberi makanan sebagaimana yang suami makan atau yang lebih baik. Memberi pakaian yang sama baiknya dengan pakaian suami atau lebih baik.
  • Dalam beberapa kondisi, istri membutuhkan asupan makanan / nutrisi yang lebih misalkan ketika hamil dan menyusui. Jika diperlukan. maka suami selayaknya mengalah untuk kebaikan keluarganya.
  • Tidak menyakitinya, tidak merendahkannya, dan tidak memusuhinya / menyusahkannya.
    "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan berilah wasiat (perintah) untuk berbuat baik kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Maka jika engkau berupaya meluruskannya, engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya, ia akan senantiasa bengkok. Maka berilah wasiat (perintah) untuk berbuat baik kepada wanita."

    ( Shahih Bukhari : 5185 )

  • Memang kodratnya wanita itu bengkok. Maka suami perlu menyadari hal ini sehingga ia harus sabar dan terus berwasiat - berpesan - memberi nasehat agar istrinya berbuat baik dan menjaga ketaatannya kepada Allah dan suaminya. Suami hadir disamping istrinya untuk menasehatinya, menjaganya, dan mendampingi / menemaninya dalam berbuat baik.
  • Jika suami berambisi mendapati istri yang lurus selalu dalam perbuatan baik, suami terlalu memaksakan diri maupun terhadap istrinya, tidak sabar dalam mendampinginya. Dikhawatirkan akan terjadi perceraian.
  • Adapun, jika suami membiarkan saja kebengkokan istrinya tidak mau menasehatinya, tidak peduli apa yang diperbuatnya, dan suami hanya mau enaknya saja dan seenaknya sendiri. Maka, secara akal sehat pun ini tidak berakibat atau berakhir dengan kebaikan.

  • Jangan terlalu memberatkan hati dengan hal - hal yang tidak disukai. Bersabarlah untuk tetap menasehati istri dan berbahagialah dengan hal lainnya yang engkau sukai dari seorang istri.
    "Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang mukminah (istrinya). Jika dia membenci satu perangai darinya, niscaya dia akan menyukai perangai lain darinya.""

    ( Shahih Muslim : 1468 )

  • Bagian ini cukup banyak jika dirinci masing - masing. Karena suami ada kalanya berperan sebagai pemimimpin, pengayom, pendidik, penyedia fasilitas, dan penanggung jawab setiap masalah yang muncul.
  • Jadi bisa jadi suami kadang perlu tegas dalam mengambil keputusan, kadang perlu longgar, kadang perlu melobi dan mengalah, kadang mengiyakan dan mendukung, dan kadang perlu mengambil tindakan pencegahan.

  • Sederhananya dalam konteks keluarga :
    • Didudukan dulu orangnya ( tenang dan dalam kondisi mental sadar - menyadari bahwa kita akan melakukan diskusi dan jejak pendapat )
    • Didudukan dulu perkaranya / masalahnya ( seperti apa perspektif pihak pertama dan seperti apa perspektif pihak kedua ). Terkadang hanya terjadi sedikit kesalahapahaman atau sedikit serong sudut pandangnya. Jadi solusinya bisa sangat sederhana, "Maaf".
    • Didudukan dulu solusinya ( apa - bagaiamana & mengapa solusi atau pendapat dari pihak pertama bisa memiliki value yang benar dan apa - bagaimana & mengapa solusi atau pendapat pihak kedua bisa memiliki value yang benar )
    • Apapun pendapat yang muncul perlu menghadirkan bahasa kasih sayang. Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dengan cara yang ma'ruf dan penuh hikmah.
    • Karena tidak semua orang mampu mengkomunikasikan pendapatnya, pikirannya, ataupun keinginannya secara baik dan mudah untuk dipahami pasangannya. Maka perlu adanya bahasa kasing sayang antara keduanya sebagai upaya menutup celah kekurangan atau kelemahan dari kemampuan komunikasi tersebut.
    • Beruntung jika mendapati pasangan yang sama - sama memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Tetapi tidak menjadi jaminan pula, karena adanya pengaruh hormonal, conflict of interest, stress diluar keluarga, dsb bisa menurunkan kemampuan komunikasi seseorang meskipun kadang hanya sesaat atau kadang lebih lama.
    “Tidaklah dikatakan bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih (bersyukur) kepada manusia.” ( Sunan Abi Dawud : 4811 )
  • Banyak hal yang bisa diapresiasi oleh suami terhadap istrinya. Dan begitu pula banyak hal yang bisa diapresiasi oleh istri terhadap suaminya.

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidaklah dapat menghitung jumlahnya." ( QS. An Nahl : 18 )

  • Dan sebagian nikmat dari Allah yang sampai kepada suami, datang melalui jalan seorang istri. Padahal sebagian dari "tidak terhingga atau tidak terhitung karena banyaknya" maka tetaplah tidak terhingga pula. Jadi nikmat yang melalui perantara istrinya juga sangatlah banyak. 
  • Jangan pelit, mudahkan lisan dan tindakan untuk mengapresiasi seorang istri atas nikmat - nikmat Allah yang engkau dapati darinya.

  • Contoh sederhana : Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan, maka bersyukurlah atas keindahan istri yang Allah sediakan untuk suami. Jadi pujilah keindahan istri dan seterusnya dan sebagainya ...
  • Terlalu banyak kalimat rayuan disini, jadi silakan belajar sendiri ...
  • Seusai salam sholat shubuh, ana memanjatkan doa ;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

( HR. Ibn Majah : 925 )


  • Di dalam berkeluarga kelak, ana berencana :
      • • Insya Allah, akan menimba ilmu dan menjadinya bermanfaat dengan jalan perlahan - lahan, sedikit demi sedikit, sehingga setiap pijakan berada diatas jalan yang jelas & terang.
      • • Insya Allah, memperoleh rezeki yang toyyib ( baik ) demi kebaikan keluarga. 
          • Baik untuk kehidupan akherat kelak → Rezeki yang halal dan diberkahi tidak bercampur dengan rezeki yang haram. Rezeki yang mengajarkan nikmatnya iman dan syukur.
          • Baik untuk kehidupan dunia → Rezeki yang membawa obat dan kesehatan, rezeki yang membawa kekuatan untuk beribadah, dan rezeki yang bisa bermaslahat bagi saudara, tetangga & orang-orang terdekat.
      • • Insya Allah, memiliki amalan keluarga sejak dari belum ada menjadi kecil dan tumbuh hingga menjadi sebab seluruh keluarga mendapat ampunan dan syafaat. Contohnya :
          • Memiliki anak dan mendidiknya, fa insya Allah, akan tumbuh menjadi anak yang baik.
  • Dalam pendidikan anak, secara garis besar ana berencana :
      • Insya Allah, ana akan mendidiknya Tauhid dan Ittiba'ur Rasul.
      • Adapun anak ingin diarahkan untuk menjadi Qari' , Pembisnis, Fuqaha, ataupun orang biasa saja tidaklah masalah. Ana mempercayakan hal demikian kepada pendidikan dari Ibunya.
      • Terus membersamai dan mendampingi anak dan istri dalam setiap langkah tumbuh kembangnya. 

Note : 

    • Ana tidak ingin menjelaskannya tetapi perhatikanlah pemilihan kata ana. ( Misalkan : Ana lebih memilih kata "pelan dan sedikit" dari pada kata "sebanyak - banyaknya". Ana lebih memilih kata "demi kebaikan keluarga" daripada kata "demi kecukupan atau demi kekayaan keluarga", dan kata - kata lainnya ). Ana cukup detail dalam pemilihan kata dalam sebuah tulisan, karena tulisan tidaklah seperti ucapan langsung yang bisa ana koreksi dan ana tambah sesuai kebutuhan di lapangan.
    • Secara ilmu dan psikis ana, ana tipe orang yang mendahulukan istri daripada anak. Alasannya, bagi seorang anak, ilmu yang didapat dari pengamatan, pengalaman, dan yang dirasakan akan lebih melekat kuat dalam diri dan kepribadiannya. ( meskipun saat dewasa maka ilmu, logika, dan iman bisa mengobati segalanya ). Oleh karena itu, anak perlu melihat dan belajar bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya dan bagaimana ibunya memperlakukan ayahnya.



Penutup

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata:

"Rasulullah ﷺ mengajarkan kami istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kami sebuah surat dari Al-Qur'an. Beliau bersabda: 'Apabila salah seorang di antara kalian berkeinginan dalam suatu perkara (urusan), maka hendaklah ia mengerjakan shalat dua rakaat selain shalat fardu, kemudian hendaklah ia berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَعِينُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ ‏.‏ 

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon pertolongan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan urusanmu) baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku – atau beliau bersabda: di masa sekarang dan masa yang akan datang – maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku – atau beliau bersabda: di masa sekarang dan masa yang akan datang – maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan bagiku di mana pun itu, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya."

Jabir berkata: "Dan dia (orang yang beristikharah) menyebutkan hajatnya."

( Sunan An-Nasa'i : 3253 )

بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ



Penutup Halaman Ekonomi 

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." 

(QS. An-Nur: 32)

"Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta). Mulailah (memberi nafkah) kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari kelebihan harta. Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatan diri (tidak meminta-minta), maka Allah akan menjaganya. Dan barangsiapa yang merasa cukup (qanaah), maka Allah akan menjadikannya kaya (hati)."

( Shahih Bukhari : 1427 )

بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ